| Surat Pengungsi Aceh Tamiang yang Menggetarkan Hati (Foto: NU Online) |
Aceh Tamiang - Sebuah unggahan sederhana di media sosial tiba-tiba menggetarkan hati ribuan orang. Bukan karena sensasi, bukan pula karena kontroversi, melainkan karena selembar surat kecil yang ditulis tangan oleh seorang anak pengungsi banjir di Aceh Tamiang yang memuat ketulusan luar biasa.
Surat itu ditujukan kepada Abu Mudi, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sekaligus Mudir Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga. Namun lebih dari sekadar surat, ia adalah suara hati seorang anak yang sedang berjuang di tengah kehilangan.
Dalam unggahan tersebut, sang pemilik akun menuliskan narasi singkat yang menusuk relung terdalam:
Di tengah tenda pengungsian dan lumpur yang belum kering, anak-anak ini masih sempat menulis surat cinta untuk Abu Mudi. Mereka tidak mengeluh. Mereka hanya berterima kasih.
Unggahan itu dipublikasikan pada Jumat, 13 Februari 2026, dan seketika membanjiri linimasa dengan haru.
Surat itu ditulis oleh Tumina, siswi kelas 7 MTs asal Kampung Sekumur. Dengan ejaan polos, tulisan tangan sederhana, dan bahasa apa adanya, Tumina menyampaikan rasa terima kasih kepada para santri Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga yang datang mengajar di tengah keterbatasan, tergabung dalam Komunitas Da’i Dayah MUDI Mesra Samalanga (NIDA).
Ia menulis:
Assalamu’alaikum Abu Mudi, apa kabar di sana. Ini saya dari Kampung Sekumur, nama saya Mina, kelas 7 MTs. Saya meminta terima kasih kepada Abu Mudi karena anak murid Abu sudah mengajar kami sekolah dan mengaji di Sekumur walaupun mereka lelah, tetapi mereka tetap semangat mengajar kami. Abu Mudi sangat hebat dan orangnya sangat baik. Semoga Abu Mudi di sana baik-baik saja. Terima kasih.
Tak ada keluhan. Tak ada tangisan. Tak ada cerita tentang lapar, dingin, atau kehilangan. Yang ada hanyalah rasa syukur yang nyaris tak masuk akal, keluar dari hati seorang anak yang hidup di pengungsian.
Netizen pun tak kuasa menahan air mata. Ribuan komentar membanjiri unggahan tersebut. Banyak yang mengaku terenyuh, terdiam lama, bahkan menangis setelah membaca ketulusan Tumina.
Di saat banyak orang dewasa mengeluh, seorang anak kecil justru mengajarkan arti ikhlas dan terima kasih.
Sejak banjir melanda sejumlah wilayah di Aceh Tamiang, ratusan warga terpaksa bertahan di tenda darurat.
Aktivitas belajar mengajar lumpuh. Sekolah-sekolah terendam. Buku dan perlengkapan belajar hanyut bersama air.
Namun di tengah keterpurukan itu, santri-santri MUDI yang tergabung dalam NIDA datang membawa cahaya.
Mereka membuka kelas darurat, mengajar pelajaran sekolah, mengaji, dan mendampingi anak-anak agar pendidikan dan iman tidak ikut tenggelam.
Tak hanya mengutus santri, Abu Mudi bersama rombongan juga turun langsung ke lokasi. Ia menyapa warga, memeluk anak-anak, memantau langsung dakwah dan misi kemanusiaan yang dijalankan.
Kehadirannya menjadi suntikan semangat, bukan hanya bagi para korban, tetapi juga bagi para santri yang bertugas di medan bencana.
Dalam kunjungannya, Abu Mudi berpesan dengan tegas dan penuh cinta:
Musibah tidak boleh memutus mata rantai ilmu dan iman.
Para santri diminta tetap istiqamah mengajar, meski dalam kondisi serba terbatas.
Dukungan juga datang dari Rais Syuriah PCNU Aceh Tamiang, Tgk Mustofa Abdussalamsyah. Ia menegaskan bahwa kehadiran para santri bukan sekadar membawa bantuan, tetapi juga menjaga mental dan harapan generasi muda.
“Anak-anak ini butuh perhatian dan penguatan ruhani. Kehadiran para santri yang mengajar dan membersamai mereka adalah bentuk kepedulian yang sangat bermakna,” ujarnya.
Di akhir unggahannya, sang pemilik akun menulis sebuah doa pendek yang terasa begitu dalam:
“Cepat pulih Tamiang.”
Kini, surat kecil dari Tumina bukan lagi sekadar pesan pribadi. Ia telah menjelma menjadi simbol harapan.
Dari tenda pengungsian, dari lumpur yang belum mengering, lahir suara kecil yang menggema luas: tentang syukur, tentang ketulusan, tentang kekuatan iman, dan tentang cahaya ilmu yang tak pernah padam, bahkan di tengah bencana.
Satu surat. Satu anak. Satu rasa.
Namun mampu mengguncang hati siapa pun yang membacanya.
تعليقات0